Tuan Danusasmita


Rasanya aku betah tinggal di rumah tante Reni di daerah Pengalengan ini. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Apalagi ada Rahma sepupuku yang sangat welcome kepadaku. Sehari-hari tante Reni mengurus peternakan sapi perah peninggalan mendiang suaminya dibantu oleh Rahma.

Aku juga mulai suka mengikuti mereka ke peternakan. Hari ini aku kepingin jalan-jalan sendiri di sekitaran peternakan. Aku merasa sudah cukup mengenal lingkungan sekitar, jadi enggak akan nyasar. Setelah meminta izin kepada tante Reni, aku keluar jalan-jalan seperti rencanaku.

Langkahku terhenti di depan sebuah rumah bergaya arsitektur Belanda kuno. Suasana sekeliling terasa sangat sepi. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku.

“Neng, sedang apa di sini?”

“Oh, enggak Mang, saya kebetulan lewat saja.” jawabku.

“Saya Darman, penjaga rumah ini. Di dalam ada Tuan Danusasmita pemilik rumah ini. Silahkan masuk saja, Tuan Danu pasti sangat senang menerima kedatangan Eneng.” mang Darman mengajakku untuk masuk.

“Oh, iya, nama Eneng siapa ya?” tanya mang Darman kepadaku.

“Desti, Mang.” jawabku.

“Ayo Neng kita masuk, rasanya kurang enak ngobrol di sini.” Mang Darman kembali mengajakku.

Kali ini aku penuhi ajakannya. Akhirnya, aku masuk ke bangunan besar yang berdiri tegak di hadapanku ini.

“Tunggu ya, Neng. Silahkan duduk, mamang panggilkan tuan Danu dulu.” Mang Darman berlalu dari hadapanku.

Tidak seberapa lama keluar seorang wanita paruh baya membawakan aku secangkir teh. Pembawaannya agak dingin. Dia meminta aku untuk langsung meminum teh selagi masih hangat. Aku pun menyeruputnya beberapa tegukan karena tidak enak untuk menolaknya. Setelah melihat aku meneguk teh yang dia bawakan, wanita itu pun berlalu dari hadapanku. Kembali aku ditinggalkan sendirian.

Tiba-tiba indra penciumanku menangkap aroma wangi yang tidak biasa, disusul dengan keluarnya sesosok laki-laki berperawakan tinggi besar. Wajahnya agak pucat tapi masih terpancar aura ketampanan. Inikah yang namanya tuan Danusasmita? Tanyaku dalam hati.

“Halo, Nona Desti.” Dia menyapaku.

“Saya Danu, pemilik rumah ini. Senang sekali rasanya kedatangan tamu, nona cantik seperti Anda.” sambungnya.Benar dugaanku, dialah tuan Danu. Aku merasa tersanjung mendengar kata-katanya.

Tuan Danu duduk bersebalahan denganku. Jantungku rasanya berdetak lebih kencang ketika tuan Danu duduk di sebelahku. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaan ini, tapi seperti ada daya pikat tersendiri ketika berdekatan dengannya.

Tuan Danu mengajakku ke ruangan lain di rumah itu, katanya dia mau menunjukkan sesuatu. Aku menuruti saja ajakannya.

Sampailah kami di suatu ruangan, tepatnya kamar. Tuan Danu mengatakan kalau dia menyukai aku karena aku memiliki kecantikan alami. Dia ingin menikahiku segera. Dan tanpa ragu, aku langsung memenuhi keinginannya.

Seuntai senyuman menghiasi wajah tuan Danu. Tanpa kusadari tubuh kami menjadi sangat dekat. Dia mulai memelukku dan mencumbuku sampai aku tidak ingat apa-apa lagi.

Tiba-tiba tersengar suara tante Reni memanggil namaku dan perlahan aku membuka kelopak mataku.

“Alhamdulillah Desti, akhirnya kamu sadar juga.” Tante Reni tampak lega melihatku sudah bangun.

“Memangnya ada apa, Tan?” tanyaku kepada tante Reni.

"Kemarin kamu hilang Desti. Kamu izin ke tante kalau mau jalan-jalan di sekitaran peternakan, tapi sampai maghrib kamu enggak kembali. Akhirnya, tante bersama warga sepakat untuk mencarimu. Kami menemukanku di kuburan Tuan Danu di ujung desa. Tuan Danu dulunya memang juragan kaya di desa ini. Konon katanya, dia meninggal karena diracun oleh istrinya sendiri. Kamu sudah didoakan oleh kyai Hamid supaya kondisi tubuhmu bisa pulih kembali. Ini air doanya kamu minum juga ya." Begitulah penjelasan tante Reni kepadaku.

Aku hanya terdiam mendengar penjelasan tante Reni sambil meminum air doa dari kyai Hamid.


SELESAI

7 Komentar untuk "Tuan Danusasmita"

  1. Hiiii mistis ya mbaaak he he

    BalasHapus
  2. Ya ampuun ini ceritanya horor gak sih? Aku bacanya malem-malem lho... huhu

    BalasHapus
  3. hii, kok syerem jadinya. Astaga,, Kak ira bener - bener deh, bikin parno aja.

    BalasHapus
  4. Sereeemmm.... bacanya ikut deg degan.

    BalasHapus
  5. Ceritanya bagus mbak. Saya kira menikah dan happy ending. Untung mbak Destinya ditemukan dan sadra kembali.

    BalasHapus
  6. Aku deg²an baca sejak paragraf awal. Kok mau masuk ke rumah orang yang engga dikenal.
    Wiiih...merinding aaah...

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah Desti bisa kembali pulang..wah enggak kebayang kalau beneran hilang dan nikah dengan hantu Tuan Danu

    Hiiiiii

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel